PESTA UCAPAN SYUKUR (Pesta PANEN) ATAU PESTA GOTILON - Bagian 2
BAGAIMANA PESTA SYUKUR PANEN SAAT INI?
Dalam Gereja Katolik, pesta syukur panen, sudah dirayakan sejak abad III Masehi. Pesta syukur panen, dirayakan secara meriah dan penuh sukacita. Hasil panen dibawa ke gereja. Di halaman gereja, di sediakan makanan dan minuman yang dapat dinikmati oleh siapa saja. Ucapan syukur yang disampaikan pada masa itu adalah, ”Terimakasih Tuhan.
Terimakasih atas buah bumi dan tangan manusia”. Umat bersyukur atas alam yang memberikan hasil, manusia yang bekerja, dan Tuhan yang memberikan berkat.
Acara gotilon sudah diangkat sebagai tradisi Gereja setempat. Maka, setiap stasi tiap tahunnya, mengadakan pesta Gotilon. Para pengurus gereja (sintua: sittua) memutuskan waktu yang tepat dan waktu pelaksanaan pesta dan itu diumumkan kepada umat.
Pada waktu pelaksanaan, umat datang membawa persembahan maupun benih yang akan diberkati. Hasilnya dipersembahkan sebagai ungkapan syukur atas panen yang telah dipetik. Persembahan ini dapat juga disampaikan sebagai permohonan, agar panen melimpah di kemudian hari.
Sekarang ini, pesta syukur panen atau Gotilon diusahakan agar dilaksanakan dalam Misa meriah. Persembahan akan disampaikan di depan altar untuk didoakan dan diberkati oleh imam. Umat-umat pun turut didoakan dan diberkati. Ungkapan syukur, sekali lagi di zaman ini, tidak harus hasil bumi atau hasil panen. Boleh juga dengan materi (uang) yang diperoleh dari pekerjaan atau usaha sehari-hari.
APA SAJA SIKAP-SIKAP DALAM MEMBERI PERSEMBAHAN?
Dalam 2 Korintus 9:7b, Paulus memuji orang-orang yang memberi dengan sukacita. Ungkapan Paulus ini menyiratkan sepuluh sikap hati dalam menyampaikan persembahan, yang patut diketahui dan diaplikasikan oleh umat Katolik.
- Pertama, sikap memberi dengan semangat.
- Kedua, sikap memberi berdasarkan informasi.
- Ketiga, memberi dengan sukarela dan sukacita.
- Keempat, sikap memberi yang sesuai dengan kemampuan.
- Kelima, sikap memberi dengan murah hati.
- Keenam, sikap memberi dengan tulus ikhlas.
- Ketujuh, sikap memberi dengan tekun.
- Kedelapan, sikap memberi diri sendiri.
- Kesembilan, sikap memberi dengan teratur dan tertib.
- Kesepuluh, sikap memberi dengan ucapan syukur dan puji-pujian.
Saudara-Saudari, Umat Allah yang terkasih, Allah menciptakan kita untuk menjalankan hidup menjadi puji-pujian atas nama-Nya. Jika kita memberi dengan motivasi rasa syukur, akan menjalankan hidup yang penuh berkat dan sukacita yang dikaruniakan Tuhan kepada kita. Maka, marilah kita senantiasa menyampaikan ungkapan syukur atas karunia Tuhan dalam hidup ini.
PACE E BENE






Users Today : 5
Users Last 30 days : 167
Total Users : 168