SEJARAH PAROKI PADRE PIO

Maka pertama-tama Pastor Veldkamp mulai menjajaki dan melaksanakan periodisasi pengurus. Syukurlah, pemilihan itu tidak menimbulkan masalah dan pengurus baru didukung oleh pengurus lama dan umat.

Dalam semangat itu juga gereja baru di St. Yosef Sei Sikambing diupayakan untuk dibangun karena gereja lama terlalu kecil. Pastor PME sudah mulai mengumpulkan dana dari umat, tetapi hasilnya masih jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan dan standard keuskupan. Bisa dipahami bahwa pembangunan gereja baru macet. Namun pengurus Stasi St. Yosef Sei Sikambing pada bulan Oktober 1985 nekat meletakkan batu pertama gereja baru, untuk merangsang mengalirnya dana dari umat. Hasilnya, dana yang pada kesempatan peletakan batu pertama itu lumayan besar, hingga pembangunan gereja langsung dapat dilanjutkan di bawah pimpinan Br. Victricius van den Berg. Pada hari Kenaikan 1986, umat mulai beribadat di situ dan diberkati bulan Juli 1987.

Walaupun ketiga stasi ini semakin menyatu dan membentuk satu paroki, tetapi secara administratif masih tercatat di dua paroki. Data Permandian dan perkawinan masih dicatat di dua paroki Induk (Katedral dan St. Antonius Hayam Wuruk). Maka, Pastor Paroki memohon kepada Keuskupan agar ketiga stasi itu dimekarkan menjadi paroki tersendiri. Hal itu dikabulkan tahun 1988. Karena mudika sudah dua kali mengadakan Tristasi-Cup, maka nama paroki baru itu pun ditabalkan menjadi “Tristasi”. “Saya tidak ingin satu gereja disebut gereja induk dan kedua yang lain gereja stasi”, dalih Pastor Veldkamp waktu itu. Dengan semangat itu dibentuklah Dewan Paroki, dimana ketiga stasi terwakili. Pada bulan Oktober 1988, Paroki Tristasi disahkan dan Dewan Paroki pun dilantik.

Paroki Tristasi terletak di pinggiran kota Medan. Dengan bertambahnya penduduk, bertambah juga jumlah umat Katolik. Tahun 1985 jumlah umat Katolik berkisar 3.500 orang, tahun 1994 sudah sekitar 6.500 orang. Pada Tahun 1992 satu stasi lagi bertambah yakni St. Petrus, Purwodadi. Pada waktu itu sudah dibeli juga tanah di Sukadono, untuk persiapan pembangunan Gereja St. Yakobus, Sukadono.

P. Veldkamp melayani paroki hanya hari Sabtu sore dan Hari Minggu. Selain untuk merayakan sakramen, beliau memberikan banyak perhatian kepada Dewan Paroki dan pengurus stasi: di tangan merekalah kehidupan paroki. Selain itu juga diberi perhatian khusus kepada Mudika, di antaranya mendukung Tristasi Cup, Rawil Cup, piknik rohani ke Berastagi, dll.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *