Paroki pada masa ini sungguh memperhatikan dan memprioritaskan pertumbuhan Komunitas Basis (Kombas) gerejani di lingkungan-lingkungan. Untuk itu, salah satu jalan atau cara ialah pemekaran lingkungan agar komunitas semakin kecil, demi terciptanya ikatan batin atau relasi persaudaraan yang kuat di antara umat. Katakese berkaitan dengan Kombas ini terus dikembangkan. Hasilnya cukup menggembirakan, karena jumlah umat di lingkungan makin banyak dan jumlah umat ke gereja pun bertambah pesat.
Memang OMK (Orang Muda Katolik) di semua stasi tetap digalakkan tetapi kegiatan-kegiatan masih sangat terbatas. Kegiatan mereka masih musiman, yakni perayaan Natal atau pada saat pertandingan. Kurang tersedianya Pembina yang terampil untuk kaum remaja menjadi tantangan tersendiri.
Sebagai cita-cita, Gereja Mandiri, yakni pemberdayaan kemampuan umat dan tanggungjawab atas kebutuhan finansial gereja. Dari awal kegiatan pastoralnya, pengelolaan keuangan diserahkan parokus kepada bendahara untuk menyampaikan laporan ke Keuskupan dan laporan kepada peserta sidang bulanan. Memang diakui peranan awam cukup tinggi di paroki ini. Pastor paroki menyadari bahwa yang menjadi teman dan bahkan jadi ujung tombak untuk menggembalakan umat di paroki ini adalah pemuka jemaat tak tertahbis di semua tingkatan sampai ke akar rumput. Mereka diberdayakan semaksimal mungkin dengan katakese yang cukup melalui “dosen-dosen Kapusin dari Siantar” dan Pastor Paroki sendiri selalu membuat pembinaan dan kegiatan untuk memperdalam, memperluas, menyegarkan pemahaman serta pengalaman mereka sebagai pemuka jemaat.
Dari satu pihak bahwa perbedaan suku atau kelompok etnis di paroki ini menjadi suatu potensi besar. Nampak bahwa Katolik itu sungguh bermutu sebab kendati berbeda latar belakang adat budaya, namun bisa tetap kompak dan bersaudara. Pelayanan misa requiem dan arwah pun menjadi kekuatan dan hiburan besar bagi umat yang mengalami duka. Umat bisa mengalami perbedaan pelayanan dari yang dulu. Saat-saat seperti ini, pastor paroki hadir dan bisa melayani dengan baik. Umat sungguh merasakan itu dari kesaksian mereka. Doa lingkungan sudah berjalan baik. Pembinaan kaum awam tetap menjadi prioritas. Pembinaan menyangkut segala lapisan umat, terutama di tingkat DPP dan DPS. Memang begitu luas lahan pembinaan kaum awam itu dan seharusnya harus berani memilih salah satu. Pembinaan disadari belumlah sistematis, namun tetap ada kemauan keras untuk memperkaya pembina di setiap seksi di DPP/DPS. Sistematisasi diadakan dan itu berarti ada deskripsi tujuan, bahan pembinaan, pembina atas pembina, syarat peserta bina, output yang diharapkan dan pengalokasian dana untuk itu. Tolak ukur untuk penilaian belum didefinisikan, karena hanya sedikit yang bersedia mengikuti pembinaan. Dengan kata lain, pembinaan berkelanjutan (beberapa hari seperti program di PPU Pematangsiantar) belum bisa terlaksana. Prinsip utama bagi DPP pada waktu itu ialah tidak ada alasan menolak pembinaan, terutama pembinaan untuk pembina.





Users Today : 1
Users Last 30 days : 18
Total Users : 19