SEJARAH PAROKI PADRE PIO

Walau beliau dengan senang hati melayani umat Paroki Tristasi, semua tugas di Keuskupan mulai mengatasi kemampuannya. Lagi pula rasanya perlu seorang pastor yang purnawaktu melayani paroki yang begitu pesat berkembang. Karena itu beliau memohonkan ke Bp. Uskup agar melepaskannya dari tugas sebagai pastor yang purnawaktu di paroki Tristasi. Maka, mulai bulan Juli 1994 beliau digantikan oleh P. Jan Van Maurik.

Setelah berkarya selama 8 tahun (1987-1995) di Paroki Pakkat, P. Jan van Maurik menginginkan suatu perubahan dalam hidupnya sebagai pastor. Selama cuti di Negeri Belanda, beliau diundang oleh pastor paroki kampung kelahirannya untuk melihat-lihat karya pastoral paroki itu. Waktu itu, beliau sangat terkesan dengan perhatian yang diberikan kepada umat sebagai pribadi. Di Pakkat, beliau biasanya memperhatikan pastoral kelompok/massa. Banyak perhatian diberikan kepada kelompok-kelompok (para pengurus, para kelompok tani, stasi-stasi, proyek-proyek bersama masyarakat, dsb). Beliau tetap ingat apa yang sering terjadi jika beliau mengunjungi seseorang di kampung: para tetangga datang dan nimbrung, ingin tahu, sedangkan di paroki Lubuk Pakam, kesan itu terbalik: suasana kota/individu terjadi di stasi induk, dan suasana kebersamaan terjadi di stasi-stasi luar Gereja induk. Maka beliau sangat senang, ketika pimpinan menawarkannya berkarya di paroki Tristasi yang ditinggalkan oleh P. Johannes Veldkamp. Beliau telah menggagasi paroki gaya baru itu. Namanya mencerminkan sebuah program: paroki ini bukan tergantung pada seorang pastor yang tinggal di pusat paroki, tetapi pada umat yang berada di stasi-stasi. Dalam konsep “Tristasi”, umat yang ada di tiga stasi adalah pusat perhatian

Memang beliau menjadi pastor paroki yang purna waktu yang utama, tetapi pusat paroki tetap di stasi-stasi itu. Dari tahun 1995 sampai dengan 1998, beliau tinggal di luar wilayah paroki (di pastoran Hayam Wuruk). Pada waktu itu pula diserahkan tugas kepadanya untuk mengawasi pembangunan baru sebuah biara Kapusin dengan fasilitas/kantor dan aula Paroki Tristasi. Pada tahap awal, beberapa saudara kapusin menyewa sebuah rumah di Jln. Pembangunan, gang Dame Helvetia dimana pastor paroki ditemani oleh P. Benyamin A.C. Purba (direktur utama PT. Bina Media Perintis pada waktu itu), P. Augustinus Yew. Mereka tinggal bersama masyarakat, tidak terasing dari masyarakat.

Waktu P. Veldkamp menyerahkan reksa pastoral paroki Tristasi (1994) kepada P. Jan van Maurik, stasi baru St. Petrus Purwodadi (1990) sudah ada. Walaupun stasinya sudah empat, namun nama paroki tetap masih dipertahankan, karena nama itu menyatakan suatu pandangan. Waktu gereja Stasi St. Jakobus didirikan (nomor 5), nama paroki juga tetap masih Tristasi.

Salah satu segi yang menarik dari Paroki Tristasi pada waktu itu ialah tersedianya SDM yang kaya. Itu terasa di segala bidang, mulai dari personalia Dewan Paroki. Selalu ada tukar-menukar pikiran di antara pastor dan para anggota Dewan Paroki. Pastor sangat dihormati dalam pendapatnya, tetapi untunglah, para Dewan Paroki juga tidak tinggal diam. Dan beberapa anggota bahkan memberikan sumbangsihnya dalam pengembangan pikiran Dewan Paroki di tingkat KAM.

Kekayaan SDM ini bukan hanya nampak di Dewan Paroki. Pimpinan stasi-stasi masing-masing tetap cukup mantap sehingga sangat meringankan beban kerja pastor paroki. Berkat SDM yang kaya itu juga tidak terlalu sulit untuk mendirikan suatu Perkumpulan Simpan Pinjam dengan sisipan kata “Mandiri”. Karena itu dengan harapan umat tidak perlu lagi pinjam uang kepada pastor atau paroki. Umat sendiri sanggup menyediakannya melalui koperasi. Alangkah baik jika pastornya tetap ikut serta di dalamnya untuk mendampingi karya teman-teman pengurus.

Walaupun dari tahun ke tahun jumlah umat berkembang (dan dengan itu juga jumlah stasi), namun pastor paroki masih menyisihkan waktu untuk tugas-tugas non-parokial, seperti menjadi anggota Yayasan St. Thomas, moderator dari Kumpulan Warakawuri St. Monika KAM. Ada juga waktu untuk mengunjungi Lembaga Pemasyarakatan, mengunjungi orang-orang sakit, dan menemani organisasi Pasukris. Pastor Hubert Tamba memulai kegiatan itu ketika untuk sementara waktu beliau menggantikan Pastor Veldkamp (Juli 1994-Februari 1995) yang menjalani cuti ke Belanda.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *