Ite Misa Est (Pergilah kamu diutus). Pergilah ke seluruh dunia dan beritakanlah injil (Mark. 16:15). Merupakan amanat yang diberikan Yesus kepada murid-murid-Nya untuk menyebarkan kabar baik tentang keselamatan semua orang. Semangat gospel dari bangsa Eropa terutama para misionaris yang mengimani Yesus Kristus sebagai Juruselamat merasa bertanggung jawab mewartakan injil ke seluruh dunia. Paroki Tristasi menikmati sentuhan para misionari tertahbis seperti Pastor Sigfridus van Dam OFM Cap, Diego van den Biggelaar, OFM Cap, Remigius Pennock, OFM Cap, Pastor Pretres Mission des Etrangeres (PME) dari Canada (Pastor Betrand Roi PME, Raymond B PME, Real Deasy PME, Martin PME), Venantius d Leeus, Johanes Veldkam, OFM Cap dan Jan van Maurik, OFMCap melakukan pelayanan evanggelisasi kepada orang yang belum mengenal Kristus dan membangun fondasi iman. “Aku menanam, apolos menyiram tetapi Allah yang memberi pertumbuhan (1Kor 3:6). Para misionaris membantu orang memahami keselamatan, membimbing anggota baru dan memberi pengajaran, bekerja sama dengan Pastor Pius Datubara, OFM Cap (Tahbisan uskup 19 Juni 1975) dan dilanjutkan oleh Pastor Ignasius, OFM Cap, Leo Sipahutar, OFM Cap, Benjamin A.C Purba, OFM Cap, Guido Situmorang OFM Cap, Agustinus Saragi. OFM Cap, Albinus Ginting, OFM Cap, Harold Harianja, OFM Cap. Samuel Aritonang, OFM Cap, Ambrosius Nainggolan, OFM Cap, Fiorentius Sipayung, OFM Cap, Hilarius Kemit, OFM Cap, dll.
Pada masa Pastor PME di Medan, Menteri Perumahan RI Drs Cosmas Datubara menghibahkan tanah di Perumnas Helvetia untuk pendirian gereja. Tahun 1982 dibangun Gereja St Paulus di Jalan Kemuning Raya Perumnas Helvetia. Sejak itu jumlah umat bertambah pesat. Tahun 1983 Pastor PME meninggalkan Medan karena menduga KAM (Keuskupan Agung Medan) sudah mampu mengelola paroki dengan tenaga pribumi. Pastor Venantius de Leeus diangkat menjadi pelayan di Stasi St. Yosef Sei Sikambing, St. Paulus Helvetia dan St.Maria Ratu Cinta Damai dan akhir tahun 1984 ditarik kembali ke Pematang Siantar. Pada tanggal 1 Januari 1985 Pastor Johanes Veldkam, OFM Cap memulai melayani ke-3 stasi tersebut sebagai stasi luar kota. Pada tahun 1986 Pastor memohon kepada Keuskupan agar ketiga stasi dimekarkan menjadi paroki tersendiri, tahun 1988 permohonan itu dikabulkan dan Oktober 1988 Paroki Tristasi disahkan dan Dewan Paroki dilantik. Pada tahun 1990 bertambah satu stasi St. Petrus Purwodadi. Melihat ekspektasi pertambahan umat di Gereja Stasi St. Paulus, Ketua Dewan stasi N. Pasaribu berbincang-bincang dengan pengurus Lingkungan Sukadono (Bagian dari Stasi St Paulus Helvetia) Dj Purba (Ketua), Sabar Manullang (Sekt.) dan Amer Saragi (Bendahara) untuk menginisiasi berdirinya gereja di Daerah Sukadono. Buah pikiran itu disampaikan kemudian Pastor Johanes Veldkam, OFM Cap menugasi Drs. Saimun Manik (seorang tokoh umat Stasi St. Paulus Helvetia) untuk menjajaki pencarian tanah sebagai persiapan pendirian gereja. Tahun 1992 dibeli tanah di Sukadono Jalan Gereja Jetun dengan luas 50 X 100 m dengan harga Rp 105 juta,-.





Users Today : 1
Users Last 30 days : 18
Total Users : 19